Alfalah Darussalam

Akta Notaris No 35 Tgl 14 Oktober 2008, Ijin
Operasional No. KD.11.20/5.A/PP.00/2515/08

ALAMAT

Alamat: Jl. Raya Jepara-Semarang Km 21, Sidigede 15/03, Welahan, Jepara, 59464, Semarang, Jawa Tengah

KONSULTASI

Untuk berkonsultasi dengan Ust. Ajib, silakan konfirmasi ke Customer Service terlebih dahulu

JAM KERJA

Senin - Sabtu

Pukul: 08.00 - 16.00 WIB

Untuk respon cepat, silahkan menghubungi kami pada hari dan jam kerja di atas.

Apakah Islam Membolehkan Pengasihan atau Mahabbah?

Kumpulan Artikel Pengasihan » Apakah Islam Membolehkan Pengasihan atau Mahabbah?

Agama islam merupakan agama yang memiliki tingkat syariat yang sangat luas. Mulai dari syariat, hakekat sampai makrifat. Jadi wajar saja, apabila ada perbedaan pendapat mengenai pandangan hukum dalam agama islam. Termasuk perbedaan pendapat mengenai hukum mengamalkan ilmu pengasihan.

 

Sebagian kelompok islam melarang mengamalakan ilmu pengasihan dengan alasannya tersendiri. Di sisi lain, banyak ulama besar memperbolehkan mengamalkan ilmu tersebut dengan catatan mengamalkan ilmu pengasihan hanya dianggap sebagai sarana dalam berusaha, bukan penentu segalanya. Serta mengamalkan ilmu pengasihan digunakan untuk hal baik, contohnya: mencari jodoh, agar naik pangkat kerja, pelindungan diri, membantu orang lain dan lain sebagainya.

 

Jadi ada dua pendapat di sini, ada yang memperbolehkan dan ada yang tidak. Kedua pendapat tersebut sama-sama didukung oleh ulama yang dihormati. Setiap pendapat punya dalil masing-masing. Selanjutnya, terserah Anda mau meyakini yang mana. Karena keyakinan Anda adalah hak asasi Anda. Yang penting, kita bisa saling menghormati keyakinan orang lain.

 

Kami sebagai pengelola amalanilmupengasihan.com tentu saja menyediakan amalan untuk Anda yang meyakini bahwa menggunakan atau mengamalkan pengasihan itu boleh. Dan pendapat ini didukung oleh sebagian besar ulama yang tergabung dalam Nahdlotul Ulama (NU). Jika Anda punya keyakinan lain pun tidak masalah. Jangan memaksakan diri untuk menggunakan amalan apabila Anda merasa tidak sesuai dengan keyakinan Anda. Dan sebagai manusia yang baik, diharapkan kita bisa menghormati keyakinan orang lain yang berbeda tanpa perlu mencela.

 

Dibolehkannya Mengamalkan Ilmu Prngasihan atau Mahabbah

 

Berikut ini, kami sertakan pembahasan mengenai pengasihan atau mahabbah yaitu sebagai berikut:

“Sesungguhnya suwuk (rukyah), jimat dan pengasihan adalah syirik.”

Banyak orang yang tidak paham hadits, menelan mentah-mentah hadits tersebut dan mengatakan (dengan ketidaktahuannya) bahwa semua rukyah, pengasihan dan jimat adalah syirik. Padahal yang dimaksud hadis tersebut tidak demikian.

 

Dalam ilmu hadis, untuk bisa memahami hadis, kita harus memahami sejarah munculnya hadis tersebut. Sehingga kita bisa mengambil kesimpulan yang tepat. Sayangnya, banyak orang yang merasa pintar berdalil padahal dia hanya membaca hadis terjemahan dan kemudian mengambil kesimpulan sendiri.

 

Imam al-Munawi menjelaskan, menggunakan rukyah (kecuali yang syar’iyyah), jimat dan pelet (pengasihan) dianggap syirik sebagaimana dalam redaksi hadits, karena hal-hal di atas yang dikenal di zaman Rasulallah sama dengan yang dikenal pada zaman jahiliyah yaitu ruqyah (yang tidak syar’iyyah), jimat dan pengasihan yang mengandung syirik. Atau dalam hadits, Rasulallah menganggap rukqah, pengasihan, jimat adalah syirik karena menggunakan barang-barang tersebut berarti pemakainya meyakini bahwa benda-benda itu mempunyai pengaruh (ta’tsir) yang bisa menjadikan syirik kepada Allah.

 

Imam Ath-Thayyibi menanggapi hadits tersebut bahwa yang dimaksudkan dengan syirik pada hadits di atas adalah apabila seseorang meyakini bahwa pengasihan tersebut mempunyai kekuatan dan bisa mempengaruhi (merubah sesuatu) dan itu jelas-jelas bertentangan dengan ke-tawakkal-an kepada Allah.

 

Ibnu Hajar al-Haitami dalam Fatawi Haditsiyyah-nya menjawab: hukum menggunakan wifiq tersebut adalah boleh jika digunakan untuk hal-hal yang diperbolehkan syari’at dan jika digunakan untuk melakukan hal haram maka hukumnya haram. Dan dengan ini, kita dapat menjawab pendapat al-Qarafi (ulama Malikiyyah murid ‘Izzuddin bin ‘Abdissalam) yang menegaskan bahwa wifiq adalah termasuk bagian dari sihir.

 

Mengamalkan doa-doa pengasihan, benda pengasihan, hizib dan memakai azimat pada dasanya tidak lepas dari ikhtiar atau usaha seorang hamba, yang dilakukan dalam bentuk doa kepada Allah SWT. Jadi sebenanya, mengamalkan pengasihan/mahabbah, membaca hizib, dan memakai azimat, tidak lebih sebagai salah satu bentuk doa kepada Allah SWT. Dan Allah SWT sangat menganjurkan seorang hamba untuk berdoa kepada-Nya. Allah SWT berfirman:

 

 “Berdoalah kamu, niscaya Aku akan mengabulkannya untukmu”. (QS al-Mu’min: 60)

Ada beberapa dalil dari hadits Nabi yang menjelaskan kebolehan ini. Diantaranya adalah: 

عَنْ عَوْفِ بْنِ مَالِكٍ الأشْجَعِي، قَالَ:” كُنَّا نَرْقِيْ فِيْ الجَاهِلِيَّةِ، فَقُلْنَا: يَا رَسُوْلَ اللهِ كَيْفَ تَرَى فِي ذَلِكَ؟ فَقَالَ: اعْرِضُوْا عَلَيّ رُقَاكُمْ، لَا بَأْسَ بِالرُّقَى مَا لَمْ يَكُنْ فِيْهِ شِرْكٌ

Dari Auf bin Malik al-Asja’i, ia meriwayatkan bahwa pada zaman Jahiliyah, kita selalu membuat azimat (dan semacamnya). Lalu kami bertanya kepada Rasulullah, bagaimana pendapatmu (ya Rasul) tentang hal itu. Rasul menjawab, ”Coba tunjukkan azimatmu itu padaku. Membuat azimat tidak apa-apa selama di  dalamnya tidak terkandung kesyirikan.” (HR Muslim [4079]).

 

Dari Abdullah bin Umar, bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda:

”Apabila salah satu di antara kamu bangun tidur, maka bacalah (bacaan yang artinya): Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah SWT yang sempurna dari kemurkaan dan siksaan-Nya, dari perbuatan jelek yang dilakukan hamba-Nya, dari godaan syetan serta dari kedatangannya padaku. Maka syetan itu tidak akan dapat membahayakan orang tersebut.”

 

Abdullah bin Umar mengajarkan bacaan tersebut kepada anak­anaknya yang baligh. Sedangkan yang belum baligh, ia menulisnya pada secarik kertas, kemudian digantungkan di lehernya. (At-Thibb an-Nabawi, hal 167).

 

Dengan demikian, pengasihan, mahabbah hizib atau azimat dapat dibenarkan dalam agama Islam. Memang ada hadits yang secara tekstual mengindikasikan keharaman menggunakan azimat, misalnya:

 

عَنْ عَبْدِ اللهِ قاَلَ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إنَّ الرُّقًى وَالتَّمَائِمَ وَالتَّوَالَةَ شِرْكٌ

Dari Abdullah, ia berkata, Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda, “‘Sesungguhnya hizib, azimat dan pengasihan, adalah perbuatan syirik.” (HR Ahmad [3385]).

 

Mengomentari hadits ini, Ibnu Hajar, salah seorang pakar ilmu hadits kenamaan, serta para ulama yang lain mengatakan: “Keharaman yang terdapat dalam hadits itu, atau hadits yang lain, adalah apabila yang digantungkan itu tidak mengandung Al-Qur’an atau yang semisalnya. Apabila yang digantungkan itu berupa dzikir kepada Allah SWT, maka larangan itu tidak berlaku. Karena hal itu digunakan untuk mengambil barokah serta minta perlindungan dengan Nama Allah SWT, atau dzikir kepado-Nya.” (Faidhul Qadir, juz 6 hal 180-181).

 

lnilah dasar kebolehan membuat dan menggunakan amalan ilmu pengasihan, hizib serta azimat. Karena itulah para ulama salaf semisal Imam Ahmad bin Hanbal dan Ibnu Taimiyyah juga membuat azimat.

 

A-Marruzi berkata, ”Seorang perempuan mengadu kepada Abi Abdillah Ahmad bin Hanbal bahwa ia selalu gelisah apabila seorang diri di rumahnya. Kemudian Imam Ahmad bin Hanbal menulis dengan tangannya sendiri, basmalah, surat al-Fatihah dan mu’awwidzatain (surat al-Falaq dan an-Nas).” Al-Marrudzi juga menceritakan tentang Abu Abdillah yang menulis untuk orang yang sakit panas, basmalah, bismillah wa billah wa Muthammad Rasulullah, QS. al-Anbiya: 69-70, Allahumma rabbi jibrila dst. Abu Dawud menceritakan, “Saya melihat azimat yang dibungkus kulit di leher anak Abi Abdillah yang masih kecil.” Syaikh Taqiyuddin Ibnu Taimiyah menulis QS Hud: 44 di dahinya orang yang mimisan (keluar darah dati hidungnya), dst.” (Al-Adab asy-Syar’iyyah wal Minah al-Mar’iyyah, juz II hal 307-310).

 

Namun tidak semua doa-doa atau amalan pengasihan dapat dibenarkan. Setidaknya, ada tiga ketentuan yang harus diperhatikan.

  1. Harus menggunakan Kalam Allah SWT, Sifat Allah, Asma Allah SWT ataupun sabda Rasulullah SAW.
  2. Menggunakan bahasa Arab ataupun bahasa lain yang dapat dipahami maknanya.
  3. Tertanam keyakinan bahwa pengasihan itu tidak dapat memberi pengaruh apapun, tapi (apa yang diinginkan dapat terwujud) hanya karena takdir Allah SWT. Sedangkan doa dan azimat itu hanya sebagai salah satu sebab saja.”

Jadi, kesimpulannya adalah menurut pendapat dari ulama besar yang kami ikuti perkataannya, bahwa islam memperbolehkan penggunaan ataupun mengamalakan pengasihan/mahabbah dan azimat selama hal tersebut sesuai dengan syarat-syarat yang telah disebutkan di atas. Meskipun demikian, keyakinan Anda adalah hak asasi Anda. Apabila Anda punya keyakinan lain, jangan paksakan diri untuk mengikuti keyakinan kami.

CUSTOMER SEVICE

CS. I (MH. Shodiq)

089 680 708 282
089 680 708 282
089 680 708 282
D4A6D2FA
081 328 131 411
081 328 131 411
membukabatin@gmail.com

CS. II (Mutia)

089 668 981 114
089 668 981 114
089 668 981 114
D42902C8
085 784 305 056
085 784 305 056
membukabatin@gmail.com